BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan
memegang peranan penting dalam pembentukan kualitas sumber daya manusia dan
keberhasilan pembangunan.Negara dapat mencapai pembangunan apabila seluruh
komponen bangsa memiliki kesamaan tujuan untuk mensukseskan pembangunan,
keberhasilan pembangunan dapat optimal ditunjang oleh kualitas sumber daya
manusia yang sehat dan bugar. Kesehatan dan kebugaran dapat diwujudkan dengan
cara melakukan kegiatan olahraga secara teratur. Dalam hubungannya dengan
pembentukan kualitas sumber daya manusia, Pemerintah memberlakukan Pembelajaran
Penjasorkes ke dalam setiap jenjang pendidikan SD/MI sampai SMA/SMK.
Di dalam intensifikasi
penyelenggaraan pendidikan sebagai suatu proses pembinaan manusia yang
berlangsung seumur hidup, peranan pendidikan jasmani adalah sangat penting,
yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung dalam aneka
pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, bermain dan olahraga yang
dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk
membina, sekaligus membentuk gaya hidup sehat dan aktif sepanjang hayat.
Pendidikan jasmani merupakan
media untuk mendorong perkembangan keterampilan motorik, kemampuan fisik,
pengetahuan, penalaran, penghayatan nilai
(sikap-mental-emosional-spiritual-sosial), dan pembiasaan pola hidup sehat yang
bermuara untuk merangsang pertumbuhan serta perkembangan yang seimbang. Dengan
pendidikan jasmani siswa akan memperoleh berbagai ungkapan yang erat kaitannya
dengan kesan pribadi yang menyenangkan serta berbagai ungkapan yang kreatif,
inovatif, terampil, memiliki kebugaran jasmani, kebiasaan hidup sehat dan
memiliki pengetahuan serta pemahaman terhadap gerak manusia.
Pembelajaran pendidikan
jasmani merupakan pembelajaran yang sangat disukai oleh siswa disekolah, karena
dalam pembelajaran pendidikan jasmani siswa dapat berolahraga sambil bermain.
Dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani guru diharapkan mengajarkan berbagai
keterampilan gerak dasar, teknik dan strategi permainan dan olahraga,
internalisasi nilai-nilai (sportifitas, jujur, kerjasama, dan lain-lain) serta
pembiasaan pola hidup sehat. Pelaksanaannya bukan melalui pembelajaran
konvensional di dalam kelas yang bersifat kajian teoritis, namun melibatkan
unsur fisik, mental, intelektual, emosi dan sosial.
Teknik dalam permainan bolavoli merupakan faktor
yang sangatpenting. Menurut Muhajir (2004:34) menyatakan bahwa teknik adalah
cara melakukan atau melaksanakansesuatu untuk mencapai tujuan tertentu secara
efisien dan efektif.(Muhajir, 2004) menyatakan teknik dalam permainan bolavoli
dapat diartikan sebagai caramemainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai
dengan peraturanpermainan yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang
optimal.Untuk itu teknik dasar permainan bolavoli merupakanteknik yang cukup
penting yang harus dilatih supaya mendapatkan hasilyang baik.
Menurut Nuril Ahmadi, (2007: 19).Mengatakan bahwa
Permainan bolavoli merupakan suatu permainan yangkompleks yang tidak mudah
untuk dilakukan setiap orang. Diperlukanpengetahuan tentang teknik-teknik dasar
dan teknik-teknik lanjutan untukdapat bermain bolavoli secara efektif.Teknik
dasar bermain bolavoli meliputipassing, service, smash dan block.Passing
merupakan teknik dasar bolavoli yang berfungsi untuk memainkan bola dengan
teman seregunya dalam lapangan permainan sendiri.
Proses
pembelajaran pendidikan jasmani pada siswa
kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar yang dilaksanakan di jam KBM
(Kegiatan Belajar Mengajar) selama peneliti menjadi tenaga Praktek Pengenalan
Lapangan (PPL) yang berlangsung selama 3 bulan di Sekolah SMK Negeri 1
Makassar yang beralamatkan di Jln Andi
Mangerangi Kecamatan Bongaya. Dalam materi permainan bola voli khususnya dalam
teknik dasar passing atas, siswa mengalami kesulitan dalam melakukan teknik
passing atas khususnya pada perkenaan bola dengan tangan dan banyaknya siswa
yang merasa akan takut berat bola saat melakukan pukulan khususnya perempuan
serta kurangnya sarana seperti halnya
bola voli hanya ada 6 buah dengan adanya kesulitan yang di alami siswa ini berdampak
pada tingkat keterampilan siswa dalam melakukan passing atas. Oleh karena itu,
dengan adanya upaya menggunakan variasi latihan passing berpasangan dengan
metode pembelajaran efektif yang di harapkan bisa meningkatkan keterampilan
dalam bermain voli.
Melihat
dari uraian di atas maka peneliti menarik kesimpulan untuk meneliti teknik
dasar passing atas dalam permainan bola voli di Sekolah SMK Negeri 1 Makassar
dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan passing atas dalam permainan bola
voli melalui pembelajaran variasi passing berpasangan. Berdasarkan latar
belakang diatas maka penelitian ini berjudul “ Upaya Meningkatkan Passing Atas
Permainan Bola Voli siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar Melalui
Pembelajaran Menggunakan variasi passing berpasangan”.
B.
Rumusan Masalah
Berdasarkan
latar belakang dan permasalahan diatas yang menjadi pokok penelitian dapat
dirumuskan sebagai berikut: Apakah terdapat peningkatan kemampuan passing atas
dalam permainan bola voli melalui pembelajaran variasi passing berpasangan pada
siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar ?
C.
Tujuan Penelitian
Berdasarkan
permasalahan yang telah dirumuskan di atas, tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui peningkatan kemampuan passing atas permainan bola voli melalui
pembelajaran variasi passing berpasangan siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
D.
Manfaat Penelitian
Setelah
Penelitian Tindakan Kelas ini selesai di harapkan bisa memberikan kegunaan
sebagai berikut :
a.
Manfaat bagi
siswa
1)
Dapat memberikan
sumbangan pemikiran bagi siswa terhadap penigkatan gerak dasar passing atas
yang optimal bagi siswa yang mengalami kesulitan.
2)
Dapat
meningkatkan minat dan kemampuan dalam melakukan passing atas, sehingga siswa
memperoleh situasi pemgalaman belajar yang lebih konkret, bermakna, dan
menyenangkan.
b.
Manfaat bagi
guru
1)
Untuk
meningkatkan kreatifitas guru dalam mengajar.
2)
Untuk
meningktakan proses belajar mengajar di sekolah.
3)
Untuk menambah wawasan, pengetahuan dan pengalaman
dalam melakukan penelitian lebih lanjut.
c.
Manfaat Bagi
Peneliti
1)
Peneliti memperoleh pengetahuan dan pemikiran
secara langsung bagaimana cara memilih pembelajaran yang tepat sehingga dalam
pembelajaran peneliti mempunyai wawasan dan pengalaman.
2)
Peneliti mempunyai dasat – dassar
kemampuan mengajar dan memperoleh pemecahan masalah dalam penelitian sehingga
di peroleh suatu variasi latihan yang dapat meningkatkan teknik dasar permainan
bola voli.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS
A.
Kajian
Pustaka
1.
Hakikat
Belajar dan Pembelajaran Pendidikan jasmani
Belajar
merupakan hal yang sangat penting bagi kita semua. Karena dengan belajar kkita
bias mengetahui dan bias melakukan dan memahami yang sebelumnya kita belum
mengetahui dan mengerjakannya. Belajar adalah berusaha atau berlatih agar
mendapatkan kepandaian.Belajar meupakan kegiatan berproses dan merupakan unsure
yang sangat fundamental dalam setiap jenjang pendidikan. Dalam keseluruhan
proses pendidikan, kegiatan belajar merupakan kegiatan yang paling pokok dan
penting dalam keseluruhan proses pendidikan.
Menurut
Sudjana dalam kutipan Oemar Hamalik (2001) Menyatakan bahwa belajar adalah
suatu proses yang di tandai dengan adanya perubahan pada diri sesorang. Adapun
perubahan hasil proses belajar dapat di tunjukkan dalam berbagai bentuuk
seperti: penambahan pengetahuan, pemahaman, sikap dan tingkah laku, kecakapan,
kebiasaan serta perubahan aspek – aspek lainnya yang ada pada individu – yang
belajar. Selain itu Budianingsih dalam kutipan buku Oemar Hamalik (2001:7) menyatakan bahwa “ belajar merupakan
bentuk perubahan yang alami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku
dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon “.
Jadi
dapat di simpulkan bahwa pengertian belajar adalah upaya maksimal dari seorang
guru sebagai pengajar dan seorang siswa sebagai pelajar dalam merancang sebagai
pengelolah segala sesuatu hal yang berkaitan dengan proses kegiatan belajar
mengajar untuk memperoleh hasil kegiatan belajar yang maksimal. Kita tahu bahwa
prinsip belajar merupakan upaya membangkitkan aspek - aspek yang harus di
kembangkan sebagai potensi belajar siswa yaitu, perhatian, motivasi, keaktivan,
pengalaman, pengulangan,tantangan dan perbedaan individual.
a. Tujuan
Belajar
Tujuan
belajar ialah untuk menghasilkan para siswa yang bermutu bagi kehidupan
masyarakat, karena belajar sangatlah penting untuk mengetahui ilmu – ilmu yang
ada di dunia ini.
Menurut Oemar Hamalik (2001: 15)
menyatakan bahwa tujuan belajar ialah menghasilkan perilaku yang besifat
melekat. Proses belajar dalam pendidikan jasmani, juga bertujuan menimbulkan
perubahan perilaku. Guru mengajar dengan maksud agar terjadi proses belajar.
Dari
uraian di atas dapat diaambil kesimpulan bahwa belajar merupakan suatu proses
perubahan melalui sebuah kegiatan dan rekreasi terhadap lingkungan, peruubahan
tersebut tidak dapat di sebut belajar apabila di sebabkan oleh pertumbuhan atau
keadaan sementara seseorang seperti kelelahan atau disebabkan oleh kelelahan
obat – obat. Dalam keseluruhan pendidikan di sekolah, kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang paling pokok. Ini berarti berasil tidaknya pencapaian
tujuan pendidikan banyak tergantung bagaimana
keseluruhan proses pembelajaran yang dialami siswa sebagai anak didik.
b. Pembelajaran
Pendidikan jasmani
Pembelajaran
pendidikan jasmani kesehetan merupakan pembelajaran yang melibatkan kondisi
jasmani seseorang dan kesehatan fisik seseorang dimana pembelajaran ini sangat
di sukai anak – anak, dalam pembelajaran ini anak – anak bisa bebas bergerak
sebebas – bebasnya sesuai dengan yang diinginkan anak tersebut.Di dalam
pendidikan jasmani pun terdapat tiga aspek komponen yang sangat penting yaitu,
psikomotorik, afektif dan kognitif.
Menurut
Muhajir (2004) menyatakan bahwa “pendidikan jasmani adalah pase dari proses
pendidikan keseluruhan yang berhubungan dengan aktifitas berat yang mencakup
system otot serta hasil belajar dari partisifasi dalam aktivitas tersebut.
Pendidikan jasmani merupakan suatu proses pendidikan sebagai seseorang individu
maupun sebagai anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematis
melalui berbagai kegiatan jasmani, perubahan kecerdasan dan pembentukan watak.
Melalui
kegiatan pelajaran jasmani diharapkan tumbuh
dan berkembang sehat dan segar jasmaninya, serta perkembangan pribadi
secara harmonis. Dalam hubungan dengan
peningkatan prestasi, pendidikan jasmani berupaya membentuk gerak dasar yang
bermanfaat dalam usaha pembibitan olahragawan melalui kegiatan Ekstrakurikuler misalnya
olahraga – olahraga yang memasyarakat seperti, sepak bola, bola voli dan lain –
lain.
Berdasarkan
uraian diatas maka pembelajaran
pendidikan jasmani adalah proses pendidikan yang dilakukan secara sistematis
dan terprogram oleh guru dalam upaya membantu agar potensi dann kemampuan yang dimiliki
oleh para siswa daapt berkembang secara utuh dengan baik terkait dengan tiga
aspek yang sangat khas dalam pendidikan jasmani, aspek kognitif, afektif dan
psikomotorik, yaitu dalam mencapai tujuan pendidikan yang di harapkan.
2.
Hakikat
Pendidikan Jasmani
Hakikat pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah
proses pendidikan yang memanfaatan aktivitas untuk menghasilkan perubahan
holistik dalam kualitas individu, baik dalam hal fisik, mental, serta
emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh,
mahluk totasl, dari pada hanya menggapnya sebagai seseorang yang terpisah
kualitas fisik dan mentalnya.
Pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan merupakan
media untuk mendorong pertumbuhan fisik, perkembanagan psikis, keterampilan motorik,
pengetahuan dan penalaran, penghayatan nilai – nilai (sikap mental, emosional,
sportivitas, spiritual, social), serta pembiasaan pola hidup sehat yang
bermuara untuk merangsang pertumbuhan dan perkembangan kualitas fisik dan
psikis yang seimbang. “Menurut Rusli Lutun dalam kutipan Yoshi Yustagina (2013)
Menyatakan bahwa pendidikan jasmani merupakan proses belajar untuk bergerak dan
belajar melalui gerak.”
Menurut Aip Syarifudin,
dkk (dalam Nurhadi Santoso, 2009:3) Pendidikan jasmani adalah suatu proses
melalui aktivitas jasmani, yang dirancang dan disusun secara sistematik untuk
merangsang pertumbuhan dan perkembangan, meningkatkan kemampuan dan ketrampilan
jasmani, kecerdasan dan pembentukan watak, serta nilai dan positif bagi setiap
warga Negara dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Sedangkan menurut Arma
Aboellah (dalam Guntur, 2009:15) menyatakan pendidikan jasmani merupakan bagian
integral dari pendidikan secara keseluruhan melalui kegiatan jasmani yang
bertujuan mengembangkan individu secara organik, neuro muscular, intelektual
dan emosional.
Dari beberapa uraian
diatas penulis simpulkan bahwa pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari pendidikan
secara keseluruhan yang mengutamakan aktivitas jasmani dan pembinaan hidup
sehat untuk pertumbuhan dan perkembangan jasmani, mental, sosial, serta
emosional setiap warga Negara dalam mencapai tujuan pendidikan.
3.
Permainan
Bola Voli
a. Pengertian
Permainan Bola Voli
Bolavoli
merupakan suatu olahraga permainan beregu yang dimainkan oleh dua regu yang
dipisahkan dengan net.Masing-masing regu memiliki enam orang pemain dengan
menggunakan lapangan yang berbentuk segi empat panjang dan ditengah-tengah
lapangan dibentangkan pemisah yaitu bernama net.
Menurut Sahadi Anwaruddin (2011:19) “Bola
voli merupakan permainan beregu yang dimainkan oleh dua regu dengan jumlah 6
orang, dengan tujuan dari permainan ini adalah masing – masing regu harus
menyeberangkan bola melewati bagian atas net kedaerah lapangan lawan dengan
cara memvoli bola”.
Permainan ini dapat dimainkan didalam ruangan
ataupun diluar ruangan yang terbuka. Dalam permainan bolavoli yaitu setiap regu
mampu mempertahankan bola untuk tetap tidak menyentuh tanah didalam lapangan
area sendiri dan melompatkan bola melewati atas net sampai bola jatuh menyentuh
tanah didalam lapangan area lawan melalui teknik-teknik dasar bermain bolavoli
dengan tujuan untuk mendapatkan skor.
Menurut Nuril Ahmadi (2007:19), bahwasannya
“Bolavoli merupakan olahraga permainan kompleks yang tidak mudah dimainkan oleh
setiap orang”. Permainan bolavoli dimainkan dilapangan segi empat dengan ukuran
panjang 18 meter dan lebar 9 meter.Ditengah lapangan diberi pembatas yaitu net
untuk membagi dua panjang tersebut. Lebar jaring net 90 cm dengan ketinggian
2,3 meter bagi putra dan bagi putri dengan ketinggian 2,2 meter, yaitu garis
serang sebatas 3 meter dari net, dan selebihnya sebagai daerah pertahanan
bagian belakang. Para pemain berputar searah jarum jam setiap pemain melakukan
permulaan servis.
Tujuan dari permainan bolavoli adalah melewatkan bola diatas
net agar dapat jatuh menyentuh lantai lapangan lawan untuk mencegah usaha yang
sama dari lawan. Pada dasarnya permainan ini seperti halnya permainan lainnya
yaitu di awali dengan pelaksanaan servis.Servis ini merupakan suatu upaya pemain
dalam menyajikan bola didalam suatu permainan. Setelah servis diterima, maka
akan dilanjutkan dengan pasing dan diselesaikan dengan pelaksanaan smash. Suatu
regu atau tim yang akan menerima smash akan segera membangun benteng pertahanan
dengan melakukan blok (bendungan). Pergerakan bola diupayakan dengan cara
dipantulkan melewati atas net (jaring) menjadi daya tarik tersendiri dalam
permainan bolavoli.
Dapat di simpulkan permainan bola voli
ini seperti halnya permainan lainnya yaitu di awali dengan pelaksanaan
servis.Servis ini merupakan suatu upaya pemain dalam menyajikan bola didalam
suatu permainan. Setelah servis diterima, maka akan dilanjutkan dengan pasing
dan diselesaikan dengan pelaksanaan smash. Suatu regu atau tim yang akan
menerima smash akan segera membangun benteng pertahanan dengan melakukan blok
(bendungan).
b. Teknik
Permainan Bola Voli
Menurut Nuril Ahmadi (2007: 20) ”Dalam
permainan bola voli ada beberapa bentuk teknik dasar yang harus dikuasai.
Teknk-teknik dalam permainan bola voli terdiri atas servis, passing bawah,
passing atas, block, dan smash”.
Menurut
Muhajir (2004: 34) menyatakan bahwa teknik adalah cara melakukan atau
melaksanakan sesuatu untuk mencapai tujuan tertentu secara efisien dan efektif.
Sedangkan teknik dalam permainan bolavoli dapat diartikan sebagai cara
memainkan bola dengan efisien dan efektif sesuai dengan peraturan permainan
yang berlaku untuk mencapai suatu hasil yang optimal. Untuk itu teknik dasar
permainan bolavoli merupakan teknik yang cukup penting yang harus dilatih
supaya mendapatkan hasil yang baik.
Teknik dasar bermain bolavoli merupakan faktor yang sangat
penting karena mempengaruhi kelancaran permainan, bukan pencapaian prestasi.
Adapun yang dimaksud dengan teknik dasar permainan bolavoli menurut Nakhrawi
(2015) bahwa, ”Teknik dalam permainan bolavoli dapat diartikan sebagai cara
memainkan bola dengan efektif dan efisien sesuai dengan peraturan permainan
yang berlaku untuk mencapai hasil yang optimal “. Seperti yang telah
dikemukakan oleh Anthony dkk (2001), pentingnya penguasaan teknik dasar
permainan bolavoli mengingat beberapa hal sebagai berikut:
1)
Hukuman terhadap pelanggaran peraturan permainan
yang berhubungan dengan kesalahan dalam melakukan teknik.
2)
Karena terpisahnya tempat antara regu satu
dengan regu yang lain, sehingga tidak terjadi adanya sentuhan badan dari pemain
lawan, maka pengawasan wasit terhadapp kesalahan teknik akan lebih seksama
3)
Banyak unsur-unsur yang menyebabkan terjadinya
kesalahan-kesalahan teknik, antara lain : membawa bola dan pukulan rangkap.
4) Permainan
bolavoli adalah permainan cepat, artinya waktu untuk memainkan bola sangat
terbatas, sehingga penguasaan teknik yang tidak sempurna akan memungkinkan timbulnya
kesalahan-kesalahan teknik yang lebih besar.
Berdasarkan
pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa, teknik dasar bolavoli merupakan
suatu gerakan yang dilakukan secara efektif dan efisien untuk menyelesaikan
tugas yang pasti dalam permainan bolavoli.Banyak manfaat yang di peroleh jika
seorang pemain menguasi teknik dasar bermain bolavoli, yaitu terhindar dari
hukuman kesalahan teknik. Mengingat pentingnya peranan penguasaan teknik dasar
bolavoli, maka setiap pemain harus menguasai agar dapat meningkatkan
keterampilannya secara individu maupun tim. Adapun bentuk dan ukuran lapangan
bolavoli sebagai berikut:
Gambar
1. 1 Lapangan Bola Voli
Sumber : (Muhajir 2004:30)
Agar dapat bermain bolavoli dengan baik, ada
berbagai macam teknik yang harus dimiliki dan di pelajari.
1) Passing
Passing
adalah awal sentuhan bola atau usaha yang dilakukan seorang pemain untuk
memainkan bola yang datang didalam daerahnya sendiri dengan menggunakan cara
tertentu untuk dimainkan oleh teman seregunya yang biasanya di sebut dengan
pengumpan (tosser) untuk diumpankan ke smasher sebagai serangan
ke regu lawan. Menurut Sunardi dan Kardiyanto (2013:23) bahwa “Passing adalah
mengoperkan bola kepada teman sendiri dalam satu regu dengan tenik tertentu,
sebagai langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan”.
Passing dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu passing
atas dan passing bawah. Passing dari bawah digunakan apabila bola yang
datang dibawah ketinggian dada, sedangkan passing atas digunakan apabila
bola yang datang di atas ketinggian dada. Adapun cara melakukan passing bawah
dan atas sangat berbeda. Passing dalam permainan bolavoli dibagi menjadi 2 (dua) spesifikasi, yaitu :
a) Passing bawah
“Berdasarkan
batasan passing diatas dapat dirumuskan passing bawah adalah
teknik dasar permainan bolavoli dengan menggunakan kedua lengan bawah yang
untuk mengoperkan bola kepada teman seregunya untuk dimainkan diarea lapangan
sendiri dan bertujuan sebagai awal untuk melakukan serangan awal pada regu
lawan “.
b) Passing
Atas
“Passing
merupakan operan bola yang dimainkannya kepada teman seregunya sebagai
langkah awal untuk menyusun pola serangan kepada regu lawan.Oleh karena itu,
menguasai teknik dasar passing bolavoli diantaranya pasing atas
merupakan faktor yang penting dan harus dipahami serta dikuasai dengan benar”.
Menurut
Barbara L Viera dalam kutipan Nakhrawi
(2015:16) mengatakan passing atas bisa digunakan untuk menerima
bola yang lebih tinggi dari bahu dan datang dengan essdikit kekuatan ke arah
seorang pemain. Passing atas dapat pula dilakuakn untuk memberikan
operan kepada teman untuk melakukan serangan.Cara melakukan passing atas,
sedangkan menurut Nuril Ahmadi (2007: 25) “Jari tangan terbuka lebar dan kedua
tangan membentuk mangkuk hampir saling berhadapan.Sebelum menyentuh bola, lutut
sedikit ditekuk hingga tangan berada di muka setinggi hidung.Sudut antara siku
dan badan ± 45 °. Bola disentuh dengan cara meluruskan kaki dan tangan.”
Tahapan
melakukan passing atas dengan menggunakan kedua tangan yang diangkat ke
atas lurus didepan kepala, jari-jari tangan dibuka. Bola didorong ka arah depan
atas dengan arah bola berasal dari arah atas. Cara melakukan passing atas
adalah dengan berdiri tegak, kaki dibukaselebar bahu, kedua lutut sedikit
ditekuk dan badan seimbang. Kemudian angkat kedua tangan ke atas agak ke depan,
jari-jari tangan dibuka, pandangan mata pada bola yang datang sehingga perkenaan
bola tepat pada jari-jari tangan dan siap untuk dioperkan kepada teman.
langkah-langkah melakukan passing atas adalah sebagai berikut :
a)
Sikap Permulaan
Ambil posisi
normal yaitu: kedua kaki berdiri selebar dada , berat badan menumpu pada
telapak kaki bagian depan, lutut ditekuk dengan badan merendah tempat badan
secepat mungkin di bawah bola, dengan kedua tangan diangkat lebih tinggi dari
dahi, dan jari-jari tangan terbuka lebar membentuk cekungan seperti setengah
lingkaran.
b)
Gerakan pelaksana
Tepat saat bola
berada diatas dan sedikit di depan dahi, lenggan diluruskan dengan gerakan agak
eksplosif untuk mendorong bola. Perkenaan bola pada permukaan jari ruas pertama
dan kedua, dan yang dominan mendorong bola adalah ibu jari, jari telunjuk dan
jari tengah.Pada waktu perkenaan dengan bola, jari-jari agak ditegangkan
kemudian diikuti dengan gerakaan perelangan tangan agar bola memantul dengan
baik.
c)
Grakan lanjutan
Setelah
bola memantul dengan baik, lannjutan dengan meluruskan lengan ke depan atas
sebagai suatu gerakaan lanjutan, diikuti dengan memindahkan berat badan ke
depan dengan kaki belakang melangkah ke depan dan segera mengambil sikap siap
dan posisi normal.
Gambar
1. 2. Posisi Tangan dan Tubuh Saat Passing Atas
Sumber : (Kemendikbud
2014:20)
Gambar 1. 3. Rangkaian gerak passing atas
Sumber :Sahadi Anwarudin, ( 2011;23)
Dari
pendapat diatas dapat tarik kesimpulkan bahwa Passingatas merupakan
salah satu teknik dasar bola voli yang memiliki pola gerakan yang cukup
kompleks, jika dibandingkan dengan passing bawah. Tidak setiap siswa
mampu melakukan passing atas dengan baik.Passing atas merupakan
unsur yang terpenting dalam permainan bolavoli.
4.
Metode
Latihan Passing Berpasangan
a.
Pengertian
Metode latihan
Metode
berasal dari Bahasa Yunani “Methodos’’ yang berarti cara atau jalan yang
ditempuh. Sehubungan dengan upaya ilmiah, maka metode menyangkut masalah cara
kerja untuk dapat memahami objek yang menjadi sasaran ilmu yang bersangkutan.
Fungsi metode berarti sebagai alat untuk mencapai tujuan.Pengetahuan tentang
metode - metode mengajar sangat di perlukan oleh para pendidik, sebab berhasil
atau tidaknya siswa belajar sangat bergantung pada tepat atau tidaknya metode
mengajar yang digunakan.
Metode
pembelajaran latihan berarti cara yang dilakukan dalam proses pembelajaran
sehingga dapat diperoleh hasil yang optimal. Dengan menggunakan metode dapat
merealisasikan strategi pembelalajaran yang telah ditetapkan.
b.
Variasi
Latihan Passing Berpasangan
Merupakan
suatu variasi latihan atau kombinasi
yang merupakan suatu gabungan beberapa teknik hal (teknik dasar). Yang
dilakukan dalam satu rangkaian gerakan dengan tujuan, agar anak didik dapat
memperkirakan efek dari teknik itu sendiri.
Menurut
Yoshi Yustagina Latihan passing berpasangan ini salah satu jenis yang dapat
dilakukan seorang pemain dalam latihan bermain bola voli khususnya teknik
passing, yang dimaksudkan pemain berpasangan dengan tujuannya dan melakukan
passing atas yang di usahakan bola tidak jatuh dan perkenan bola dan tangan selalu
benar, dimana sikap permulaan berdiri berhadapan lalu melakukan umpan setelah
itu di passing atas secara berulang – ulang. Keuntungan pada latihan latihan
ini passing berpasangan ini adalah banyaknya sisi yang mengharuskan passing
sesuai dengan keberadaan passinganya saat melakukan latihan.
Dari
uraian di atas konsep suatu variasi latihan atau pola latihan permainan bola
voli merupakan suatu latihan yang untuk meningkatkan keterampilan dan kemampuan
pemain dalam melakukan passing yang baikmenjadi modal utama dalam mengembangkan
keterampilan teknik dasar bermain bola voli.
c.
Jenis
– Jenis latihan passing berpasangan
1) Variasi
Latihan Passing Berpasangan
Latihan
passing rotasi berpasangan setiap kelompok minimal 4 orang saling berhadapan
dengan jarak dua sampai tiga meter melakukan passing atas secara bergantian (rotasi) tanpa
terjatuh. Setiap anak yang sudah melakukan passing langsung melakukan rotasi
dengan lari ke arah baris paling belakang kelompoknya sampai tiba gilirannya
kembali melakukan passing.
2) Variasi
Latihan Passing Rotasi Ke Arah larinya Bola
Latihan
passing rotasi kea rah larinya bola setiap pasangan minimal 4 orang saling
berhadapan dengan jarak sekitar 3 meter melakukan passing Atas secara
bergantian (rotasi). Cara latihan ini mirip dengan passing rotasi berpasangan.
Perbedaannya terletak pada cara melakukan rotasi. Setiap anak yang sudah
melakukan passing langsung lari mengikuti arah bola dan antri berada dii
kelompok yang berada di depannya dengan mengambil posisi paling belakang.Begitu
juga dengan kelompok yang satunya juga melakukan rotasi mengikuti arah laju
bola.Rotasi berlangsung ssecara sistematis sesuai arah passing.
3) Latihan
passing satu bola untuk 6 orang anak
Cara
melakukan adalah 6 orang anak di bagi menjadi dua banjar 3 anak – 3 anak
berdiri saling berhadapan tanpa terjatuh.Dengan tujuan untuk berlatih ketepatan
passing.
Dari
uraian di atas adapun yang menjadi fokus latihan dalam penelitian ini adalah
variasi latihan passing berpasangan yang
telah disusun dan terencana yang di harapkan mampu untuk meningkatkan
keterampilan passing atas siswa kelas X AK 1 SMK Negeri Makassar yang
beralamatkan dijalan Andi Mangerangi Kecamatan Bongaya.
5.
Hakikat
Bermain Bola Voli
Menurut
M Yunus dalam kutipan Anthony Don (2001:24) “kemampuan adalah kapasitas
seseorang individu untuk melakukan beragam tugas dalam suatu.Keterampilan gerak
dasar merupakan suatu kemampuan yang biasa siswa lakukan guna meningkatkan
kualitas hidup”.Kemampuan gerak dasar dibagi menjadi tiga kategori yaitu
kemampuan locomotor, kemampuan nonlocomotor, dan kemampuan
manipulatif. Kemampuan locomotor digunakan untuk memindahkan tubuh dari
satu tempat ke tempat lain. Kemampuan nonlocomotor dilakukan ditempat
tanpa ada ruang gerak yang memadai.Sedangkan kemampuan manipulative dilakukan
untuk memanipulasi benda.
Menurut
Machfud Irsada dalam buku Muhajir (2004:42) Gerak dasar dalam permainan
bolavoli merupakan ketrampilan gerak yang dilakukan dalam kegiatan bermain
bolavoli baik yang berkaitan dengan aktivitas pada saat memainkan bola maupun
pada saat tanpa memainkan bola. Permainan bolavoli membutuhkan kemampuan untuk
mempersepsi bola , mencakap arahnya, dan kecepatannya. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa kemampuan bermain bola voli merupakan potensi seseorang untuk
menunjukkan keahlian bermain bola voli yang merupakan hasil dari latihan atau
praktek.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa keterampilan dalam bermain bola voli
merupakan suatu usaha atau kesanggupan dalam melakukan suatu kemampuan gerak
dasar yang meliputi gerak Locomotor, nonlocomotor dan kemampuan manipulatif
seseorang atau individu.
B.
Kerangka
Berpikir
Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang
mampu melibatkan keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diarahkan
untuk menyelesaikan masalah yang dipelajari. Permasalahan yang sering terjadi
dalam pembelajaran pendidikan jasman khsususnya pada metode atau cara
menyampaikan materi pembelajaran.
Dengan diterapkannya menggunakan variasi latihan
passing berpasangan dalam pelaksanaan tindakan tiap siklus diisesuaikan dengan topik materi yang
telah disusun dan terarah sehingga mudah dipelajari dan dijabarkan dalam
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), setiap pertemuan.
|
Hasil peningkatan kemampuan passing
atas rendah
|
|
Kondisi
Awal
|
|
Siklus I
Siswa melakukan teknik dasar passing atas bola
voli dengan menggunakan variasi latihan passing berpasangan
|
|
Meningkatkan kemampuan passing atas bola voli dengan
menggunakan variasi latihan passing
berpasangan
|
|
Tindakan
|
|
Siklus II
Perbaikan dari pada siklus I
|
|
Kondisi
Akhir
|
|
Dengan menggunakan variasi latihan passing
berpasangan kemampuan passing atas siswa meningkat
|
Gambar 2. 4 Alur
Kerangka berpikir
C.
Hipotesis
Tindakan
Melalui kerangka pemikiran yang telah disusun
sebelumnya maka dapat dirumuskan hipotesis tindakan terhadap penelitian ini
adalah sebagai berikut :
“Melalui
variasi latihan passing berpasangan dapat meningkatkan kemampuan passing atas dalam
permainan bola voli pada siswa kelas X
AK 1 SMK Negeri 1 Makassar”.
BAB
III
METODE
PENELITIAN
A.
Jenis
Penelitian
Jenis
penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas.Arikunto (2009:58) mengatakan
bahwa penelitian tindakan kelas (Clasroom ActionResearch) yaitu
penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam kelas atau disekolah tempat dia
mengajar dengan tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran di kelasnya.Dalam
penelitian tindakan kelas ini, peneliti melaksanakan melalui dua siklus yaitu
siklus I dan siklus II.Setiap siklus terdiri atas empat tahap, yaitu
perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
B.
Prosedur
Penelitian
Prosedur tindakan kelas pada dasarnya bertujuan
untuk mengatasi masalah – masalah pembelajaran di kelas dan sekaligus merupakan
upaya meningkatkan efektifitas pembelajaran.Dari pelaksanaan penelitian
tindakan kelas peneliti mampu memahami lebih dalam persoalan – persoalan yang
ada di dalam kelas dan mampu menemukan solusi yang terbaik dari persoalan
tersebut.
Empat
tahapan yang lazim di lalui yaitu (1) perencanaan, (2) Pelaksanaan, (3)
pengamatan , dan (4) refleksi. Adapun model dari penjelasan untuk masing-masing
tahap adalah sebagai berikut :
|
Perencanaan
|
|
SIKLUS I
|
|
Pengamatan
|
|
SIKLUS II
|
|
Pengamatan
|
|
Refleksi
|
|
Refleksi
|
|
Pelaksanaan
|
|
Pelaksanaan
|
|
Perencanaan
|
Gambar 3.1 Alur tahap Siklus
Penelitian Tindakan Kelas
Sumber. Arikunto,
(2016:34)
Penelitian tindakan kelas ini di lakukan
dua siklus guna melihat peningkatan teknik dasar passing atas menggunakan variasi latihan passing berpasangan.
Adapun
penjelasan dari tahap – tahap siklus di atas adalah sebagai berikut:
1.
Siklus
I
1) Siklus
I Pertemuan Ke - 1
a) Tahap
Perencanaan
Pada tahap ini peneliti
mempersiapkan pembelajaran yang terdiri dari:
(1) Rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP).
(2) Instrument
yang digunakan dalam siklus PTK.
(3) Menyusun
lembar penilaian.
(4) Mempersiapkan
sarana dan prasarana permaina bola voli
(5) Mempersiapkan
tempat penelitian.
b) Tahap
Pelaksanaan Tindakan
Pelaksanaan tindakan adalah pelaksanaan yang
merupakan implementasi atau penerapan isi rancangan, yaitu mengenakan tindakan
kelas (Arikunto, 2009:18). Tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah
melaksanakan proses pembelajaran dilanjutkan di lapangan dengan langkah –
langkah kegiatan antara lain:
(1) Menjelaskan
kegiatan belajar mengajar passing atas
(2) Memberikan
pelajaran passing atas
(3) Melakukan
pemanasan di lapangan
(4) Mendemonstrasikan
gerakan passing atas
(5) Menarik
kesimpulan
(6) Mealakukan
pendinginan
c) Tahap
Pengamatan
Observasi
adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan oleh pengamat (Arikunto,
2009:112).Kegiatan observasi dilaksanakan untuk mengamati keseluruhan siswa
untuk mengetahui siapa yang hadir dan tidak hadir serta aktivitas siswa selama
pembelajaran berlangsung dan melihat hasil keterampilan passing atas.
d) Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan untuk mengemukakan
kembali apa yang sudah dilakukan (Arikunto, 2009:112). Kegiatan yang dilakukan
pada tahap ini untuk menganalisa data yang diperoleh dari hasil observasi guna
melihat guna melihat kekurangan dan kelebihan yang terjadi dalam proses
pembelajaran.
2) Siklus
I Pertemuan Ke - 2
a) Tahap
Perencanaan
Kegiatan ini merupakan kegiatan tindakan lanjutan
dari pelaksanaan tindakan dari siklus I pertemuan ke – 2.Hasil refleksi dari
pertemuan sebelumnya menerapkan pedoman untuk tindakan berikutnya. Tahap
perencanaan pembelajaran, menyiapkan sarana dan prasarana belajaran yang
digunakan untuk proses pembelajaran.
Alat yang digukan dari suklus I pertemuan ke – 2
masih sama dengan pertemuan sebelumnya karena merupakan lanjutan pembelajaran.
b) Tahap
Pelaksanaan Tindakan
Tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah
melaksanakan proses pembelajaran di kelas dan dilanjutkan di lapangan dengan
langkah- langkah kegiatan antara lain:
(1) Menjelaskan
kegiatan belajar mengajar passing atas
(2) Memberikan
pelajaran passing atas
(3) Melakukan
pemanasan di lapangan
(4) Mendemonstrasikan
gerakan passing atas
(5) Melakukan
teknik dasar passing atas menggunakan variasi latihan passing berpasangan
(6) Menarik
kesimpulan
(7) Mealakukan
pendinginan
c) Tahap
Pengamatan
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mengamati
keseluruhan siswa untuk mengetahui siapa yang hadir dan tidak hadir serta
aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dan melihat hasil keterampilan
passing atas.
d)
Refleksi
Pada tahap ini diawali dengan diskusi antara
pelaksana tindakan dengan kolaborator untuk membahas tentang hasil
observasi.Kegiatan ini untuk menemukan kelebihan dan kekurangan yang masih
terlihat pada pelaksanaan pertemuan ke-1.
3) Siklus
I Pertemuan ke - 3
Pada
pertemuan ke 3 ini peneliti melakukan tes untuk mengetahui peningkatan passing
atas siswa.Siklus I pertemuan ke-3 ini diharapkan kemampuan passing atas siswa
dalam permainan bola voli dapat lebih meningkat dari sebelumnya dan kemudian
dapat ditarik kesimpulan.
2.
Siklus
II
Siklus
II merupakan perbaikan dari siklus I. Peneliti mengadakan evaluasi hasil dan
proses pembelajaran pada siklus I dan merefleksi kembali hal-hal apa atau
tindakan penelitian selanjutnya, sehingga dapat meningkatan teknik passing
atasdalam permainan bola voli dari siklus I ke siklus II.
Tindakan yang akan
dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
1) Siklus
II Pertemuan ke - 1
a) Tahap
Perencanaan
Pada
tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri dari:
(1) Rencana
pelaksanaan pembelajaran (RPP).
(2) Instrument
yang digunakan dalam siklus PTK.
(3) Menyusun
lembar penilaian.
(4) Mempersiapkan
sarana dan prasarana permaina boola voli.
(5) Mempersiapkan
tempat penelitian.
b) Tahap
Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan
adalah melaksanakan proses pembelajaran dilanjutkan di lapangan dengan langkah
– langkah kegiatan antara lain:
(1) Menjelaskan
kegiatan belajar mengajar passing atas
(2) Memberikan
pelajaran passing atas
(3) Melakukan
pemanasan di lapangan
(4) Mendemonstrasikan
gerakan passing atas
(5) Menarik
kesimpulan
(6) Mealakukan
pendinginan
c) Tahap
Pengamatan
Observasi adalah kegiatan pengamatan yang dilakukan
oleh pengamat (Arikunto, 2009:112).Kegiatan observasi dilaksanakan untuk
mengamati keseluruhan siswa untuk mengetahui siapa yang hadir dan tidak hadir
serta aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dan melihat hasil
keterampilan passing atas.
d) Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini untuk
menganalisa data yang diperoleh dari hasil observasi guna melihat guna melihat
kekurangan dan kelebihan yang terjadi dalam proses pembelajaran.
2) Siklus
II Pertemuan ke - 2
a) Tahap
Perencanaan
Kegiatan ini merupakan kegiatan tindakan lanjutan
dari pelaksanaan tindakan dari siklus II pertemuan ke – 1.Hasil refleksi dari
pertemuan sebelumnya menerapkan pedoman untuk tindakan berikutnya. Tajap
perencanaan pembelajaran, menyiapkan sarana dan prasarana belajaran yang
digunakan untuk proses pembelajaran.
Alat yang digukan dari suklus II pertemuan ke – 2
masih sama dengan pertemuan sebelumnya karena merupakan lanjutan pembelajaran.
b) Tahap
Pelaksanaan Tindakan
Pada
tahap pelaksanaan kegiatan yang dilakukan adalah melaksanakan proses
pembelajaran di kelas dan di lanjutkan dilapangan dengan langkag – langkah
kegiatan sebagai berikut:
(1) Menjelaskan
kegiatan belajar mengajar passing atas
(2) Memberikan
pelajaran passing atas
(3) Melakukan
pemanasan dilapangan
(4) Mendomonstrasikan
gerakan passing atas kepada siswa
(5) Melakukan
teknik dasar passing atas menggunkan variasi latihan passing berpasangan
(6) Menarik
kesimpulan
(7)
Melakukan pendinginan
c) Tahap
Pengamatan
Kegiatan observasi dilaksanakan untuk mengamati
keseluruhan siswa untuk mengetahui siapa yang hadir dan tidak hadir serta
aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung dan melihat hasil keterampilan
passing atas.
d) Refleksi
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini
adalah menganalisis data yang diperoleh pada tahap observasi. Berdasarkan hasil
analisis data dilakukan refleksi guna melihat kekurangan dan kelebihan yang
terjadi dalam proses pembelajaran. Pada pertemuan ke 2 ini peneliti melakukan
tes untuk mengetahui peningkatan passing atas.Apakah sudah efektif dengan
melihat ketercapaian dalam indikator kinerja pada siklus I dan siklus II.Siklus
II pertemuan ke- 3 ini diharapkan kemampuan passing atas siswa dalam permainan
bola voli dapat lebih meningkat dari sebelumnya dan kemudian dapat ditarik
kesimpulan.
C.
Fokus
Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2009) menyatakan
variabel adalah objek peneitian atau apa saja yang menjadi titik perhatian dari
suatu penelitian. Agar lebih terarah untuk mengenal makna, pengertian dan
masalah serta terhindar dari salah pengertian, maka perlu dijelaskan yang
menjadi fokus dalam penelitian ini sebagai berikut :
Variasi latihan passing berpasangan dan kemampuan passing atas, variasi latihan
passing berpasangan adalah suatu bentuk latihan yang di maksudkan untuk
meningkatkan kemampuan passing siswa dalam permainan bola voli. Sedangkan
keterampilan passing merupakan suatu usaha atau upaya seorang pemain bola voli
dengan caramemainkan bola secara efisien dan efekrif sesuai permainan yang
berlaku untuk mencapai hasil yang optimal.
D.
Objek
penelitian
Ibnu dalam kutipan Winarno (2013:58) mengemukakan,
populasi adalah semua subjek atau objek sasaran penelitian.Jadi, populasi
adalah sekelompok sesuatu yang menjadi minat peneliti dimana dari kelompok
itulah bisa dilakukan penganggapan umum (generalisasi) atas hasil yang
diperoleh dari penelitian yang dilakukan. Dengan demikian maka yang menjadi
objek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X
AK 1 SMK Negeri 1 Makassar. Yang terdiri 30 siswa yaitu perempuan 22
orang dan laki – laki 8 orang kelas X AK
1 SMK Negeri 1 Makassar.
E.
Teknik
Pengumpulan Data
Teknik Pengumpulan Data menurut Ibnu
dalam kutipan Winarno (2003:71) mengemukakan bahwa instruumen penelitian memegang
peranan penting dalam upaya mencapai tujuan penelitian.Untuk mengumpulkan
data-data yang akurat sebagai dasar untuk menilai keberhasilan suatu tindakan
yang dicobakan maka peneliti menggunakan teknik pengambilan data yaitu teknik
tes.
Teknik tes merupakan alat ukur data yang berharga dalam
penelitian. Tes ialah seperangkat rangsangan (stimulus) yang diberikan kepada
seseorang dengan maksud untuk mendapatkan jawaban - jawaban yang di jadikan
penetapan skor dan data tentang hasil passing atas.
F.
Instrumen
Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat bantu yang
digunakan dan dipilih oleh peneliti dalam kegiatannya mengumpulkan data agar
kegiatan tersebut menjadi sistematis dan dipermudah (Suharsimi Arikunto,
2009:134).
Instrumen atau
alat yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tes teknik dasar passing
atas, untuk mengukur kemampuan dalam penguasaan tahapan-tahapan gerak dasar
passing atas pada permainan bola voli. Pelaksanaan
tes passing atas menggunakan tes Keterampilan ini disusun untuk siswa
kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar yang sudah diterapkan dengan rangkaian tes
sebagai berikut:
1. Tujuan
: MeningkatkanKemampuan Passing Atas
a.
Alat-alat yang digunakan dalam tes ini
antara lain:
1) Bola
voli
2) Stup
watch,
3) Alat
tulis, dan Sempritan
4) Meteran
5) Tiang
berukuran 2,30 m untuk putra, dan 2,15 m untuk putri.
6) Lapangan
dengan bentuk segi empat sama sisi dengan ukuran 4,5 m x 4,5 m.
b. Petugas
Tes
1) Memberi
aba – aba.
2) Menghitung
passing atas yang benar.
3) Menghitung
waktu selama 60 detik.
4) Mengamati
kaki peserta tes jika keluar area.
c. Pelaksanaan
1) Peserta
tes berdiri di tengah area berukuran 4,5 x 4,5 m.
2) Untuk
memulai tes, bola dilambungkan sendiri oleh peserta tes, setelah mendengar aba
– aba “Ya”.
3) Setelah
bola dilambungkan peserta melakukan passing atas dengan ketinggian minimal 2,30
m untuk putra dan 2,15 m untuk putri.
4) Bila
peserta tes gagal melakukan passing atas dan bola keluar area, maka peserta tes
segera mengambil bola tersebut dan melanjutkan passing atas kembali.
5)
Bila kedua kaki peserta tes berada di
luar area, maka petugas tes memerintahkan agar peserta tes segera kembali ke
area, dan bola yang terpukul sewaktu kedua kaki berada di luar area tidak
dihitung.
d. Pencatat
Hasil
Passing atas yang dianggap benar dan
dihitung adalah bila bola mencapai ketinggian minimal 2,30 m, untuk putra dan
2,15 m putri dan dilakukan di dalam area selama 60 detik.
Table.
3.2 Pedoman penilaiam psikomotorik passing atas
No.
|
Aspek yang
dinilai
|
Indikator
|
Skor
|
Ket
|
|||
1
|
2
|
3
|
4
|
||||
1.
|
Sikap
Permulaan
|
-
Sikap siap normal benar.
-
Berdiri dengan kedua kaki
dinuka selebar bahu.
-
Kedua lutut direndahkan hingga
berat badan bertumpu pada ujung kaki bagian depan.
-
Posisi lengan di depan badan
dengan kedua telapak tangan dan jari-jari renggang sehingga membentuk seperti
mangkuk di depan atas muka (wajah).
-
Pandangan kea rah bola.
|
|||||
2.
|
Saat
Perkenaan
|
-
Dorongkan kedua lengan
menyongsong arah datangnya bola bersamaan kedua lutut dan pinggul naik serta
tumit terangkat.
-
Usahakan arah datangnya bola
tepat di tengah-tengah atas wajah.
-
Perkenaan bola yang baik,adalah
tepat mengenai jari-jari tangan,
|
|||||
3.
|
Sikap Akhir
|
-
Tumit terangkat dari lantai.
-
Kemudian pinggul dan lutut naik
serta kedua lengan lurus.
-
Siku dan lutut di luruskan
-
Kembali ke posisi siap menerima
bola
|
|||||
Skor Maksimal
|
12
|
||||||
(sumber: Nuril Ahmadi (2007)
Ketentuan
:
1.
Jika semua indikator dalam aspek penilaian terpenuhi maka nilai 4.
2.
Jika indikator dalam aspek penilaian terpenuhi hanya 3 maka nilai 2.
3.
Jika indikator dalam aspek penilaian terpenuhi hanya 2 maka nilai 2.
4.
Jika indikator dalam aspek penilaian terpenuhi hanya 1 maka nilai 1.
5.
Skor maksimal setiap aspek adalah 4.
6.
Jumlah skor maksimal adalah 12
Npsikomotorik = ∑skor diperoleh x 100
∑skor maksimal
G. Indikator Keberhasilan
Indikator
keberhasilan penelitian tindakan kelas ini adalah terjadinya peningkatan passing
atas siswa menggunakan variasi latihan passing berpasangan dikelas X AK 1 SMK
Negeri Makassar.Berdasarkan penilaian dari Rancangan Pelaksanaan Pengajaran
(RPP), maka setiap siswa minimal mendapatkan nilai cukup.
H. Teknik Analisis Data
Data yang terkumpul dari pengamat, dijumlah menjadi
satu kemuadian dirata-rata.Setelah semua data terkumpul, langkah selanjutnya
adalah menganalisis data sehingga data-data tersebut dapat ditarik suatu kesimpulan.Analisis
data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data kuantitatif, dianalisis
menggunakan teknik analilis deskriptif.
BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A.
Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Lokasi dalam penelitian
ini dilaksanakan di SMK Negeri 1 Makassar.Selama 1 bulan dimulai sejak tanggal
10 juli/10 agustus 2018. SMK Negeri 1 Makassar berlokasi di jalan Andi
Mangerangi, No. 38, Kecamatan Bongaya, Kota Makassar, Provinsi Sulawesi
Selatan. Pelaksanaan penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan sebanyak 6
pertemuan dengan alokasi waktu setiap pertemuan 3 X 45 menit.
B.
Penyajian Data Hasil Penelitian
1.
Data awal hasil kemampuan passing atas siswa kelas
SMK Negeri 1 Makassar.
Sebelum melakukan
penelitian tindakan kelas terlebih dahulu peneliti melakukan observasi awal
untuk mengetahui keadaan yang terjadi dilapangan untuk memberikan tindakan yang
akan diberikan kepada peneliti. Berikut data awal yang dapat peneliti pada
kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
Tabel 4.1 deskripsi
Data Awal hasil kemampuan Passing Atas
No
|
Nilai Interval
|
Frekuensi
|
Persentase ( % )
|
Kategori
|
1
|
91 – 100
|
-
|
-
|
Sangat Baik
|
2
|
80 – 90
|
-
|
-
|
Baik
|
3
|
70 – 79
|
-
|
-
|
Cukup
|
4
|
60 – 69
|
30
|
100 %
|
Kurang
|
5
|
< 60
|
-
|
-
|
kurang
Sekali
|
Jumlah
|
30
|
100 %
|
(sumber:Analisis data hasil kemampuan passing atas
2018)
Berdasarkan tabel 4.1
menunjukkan persentase data awal hasil kemampuan passing atas di kelas X AK 1
SMK Negeri 1 Makassar, sebelum dilakukan tindakan dapat dijelaskan bahwa dari
jumlah keseluruhan siswa, belum ada peningkatan hasil kemampuan passing atas
permainan bola voli yang benar dengan nilai persentase 100 % dari 30 siswa yang
termasuk kategori kurang.
Berdasarkan data awal
dapat dijelaskan data tersebut belum mencapai kategori yang di harapkan yaitu
nilai cukup, oleh karena itu perlu adanya tindakan yang diberikan pada hasil
pembelajaran passing atas siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar, yaitu
melalui pembelajaran variasi passing berpasangan. Dimana penelitian tindakan
kelas ini akan dilakukan sebanyak dua siklus dan apabila siklus I masih ada
siswa yang belum mencapai kategori yang diharapkan atau nilai cukup, maka akan di lanjutkan di
siklus II.
2.
Siklus I
pada siklus I peneliti
melaksanakan kegiatan Penelitian Tindakan Kelas, dengan melakukan persiapan dan
langkah-langkah sebagai berikut:
a.
Perencanaan
Perencanaan
diawali dengan konsultasi dengan guru olahraga selaku guru pamong. Konsultasi
antara peneliti dengan guru pamong meliputi penentuan waktu tindakan kelas,
yang akan digunakan untuk penelitian, perencanaan tindakan, dan pembuatan RPP
(rencana pelaksanaan pembelajaran). Penentuan waktu tindakan ini kaitannya
dengan pelaksanaan tindakan.Dari hasil konsultasi dengan guru pamong diperoleh
kesepakatan pelaksanaan tindakan siklus I di mulai pada hari jum’at 20 juli
2018 dan kelas digunakan yaitu kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
Langkah
selanjutnya adalah penentuan metode yang akan digunakan pada maetri pembelajaran.
Penelitian melalui materi pembelajaran tentang teknik dasar passing atas permainan bola voli. Setelah itu penyusunan
RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran)yang memuat perencanaan pembelajaran
yanga akan dilaksanakan. Persiapan yang terakhir adalah mempersiapkan alat-alat
yang akan digunakan dalam pembelajaran. Diantaranya adalah menyiapkan lembar
penilaian, peluit, lapangan bola voli dll.
b.
Pelaksanaan
Siswa dibariskan dengan
formasi tiga saf, guru memimpin berdoa setelah itu dilakukan presensi, kemudian
guru penjelaskan materi pembelajaran passing atas dari cara pelaksanaan sikap
awalan, sikap perkenaan, sikap akhir dalam teknik dasar passing atas permainan
bola voli.
Kegiatan berikutnya
adalah pemberian pemanasan, waktu yang digunakan untuk kegiatan pemasanan 15
menit.Kegiatan pertama, siswa melakukan pergerakan statis dan dinamis, guru
memberi contoh dan membetulkan siswa yang gerakannya kurang benar, menegur
siswa yang kurang serius dalam melakukan pemanasan.
Memasuki kegiatan ini
90 menit. Siswa dibagi menjadi 5 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari 6
orang saling berhadapan dengan jarak dua sampai tiga meter melakukan passing
atas secara bergantian (rotasi) tanpa terjatuh.
Kegiatan penutup dialokasikan waktunya 15 menit.
Pada kegiatan penutup siswa dibariskan kembali untuk diadakan kereksi
menyeluruh cara melakukan gerakan teknik dasar passing atas yang benar,
kemudian memberikan kesempatan pada siswa untuk Tanya jawab, dilanjutan
pendinginan, berdoa kemudian siswa dibubarkan.
c. Observasi
Hasil dari pengamatan selama proses pembelajaran
berlangsung dalam mengikuti pembelajaran passing atas siswa antusias, sangat
senang mengikuti kegiatan pembelajaran, meskipun hasil yang dicapai oleh siswa
belum semuanya memuaskan. Pada siklus I dari jumlah 30 siswa kelas X AK 1 SMK
Negeri 1 Makassar, sudah ada 13 siswa yang sudah dapat melakukan passing atas
dengan baik dan benar. Secara umum suasana dalam pembelajaran siswa cukup
aktif, ini terlihat dari antusisme siswa dalam mengikuti pembelajaran mualai dari
pemanasan sampai selesai pembeajaran.
Kegiatan yang telah
dilakukan pada siklus I, pertama adalah penyajian materi passing atas dalam
permainan bola voli melalui pembelajaran menggunakan variasi passing
berpasangan yang dilakukan dilapangan, dilanjutkan dengan pengaplikasian materi
passing atas melalui variasi latihan passing berpasangan, dan pertemuan
selanjutnya yaitu mengambil hasil atau evaluasi tes yang dinilai dari penilaian
proses dan penilaian produk. Berdasaran hasil penelitian pada siklus pertama,
maka persentase kategori belajar siswa melalui pembelajaran menggunakan variasi
passing berpasangan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.2
deskripsi hasil kemampuan passing atas melalui variasi passing berpasangan
siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
No
|
Nilai Interval
|
frekuensi
|
Persentase
|
Kategori
|
1
|
91 – 100
|
-
|
0%
|
Sangat Baik
|
2
|
80 – 90
|
13
|
43,33 %
|
Baik
|
3
|
70 – 79
|
3
|
10%
|
Cukup
|
4
|
60 – 69
|
14
|
46,66 %
|
Kurang
|
5
|
< 60
|
-
|
0%
|
Kurang Sekali
|
Jumlah
|
30
|
100 %
|
(sumber:Analisis data hasil kemampuan
passing atas 2018)
Berdasarkan tabel 4.2
menunjukkan persentase kategori hasil kemampuan passing atas melalui
variasi passing berpasangan, pada siklus
I yang berkategori sangat baik dengan persentase 0% dengan frekuensi 0 siswa,
baik dengan pesrentase 43,33% dengan frekuensi 13 siswa, cukup dengan
persentase 10% dengan frekuensi 3 siswa, kurang dengan persentase 46,66% dengan
frekuensi 14 siswa, dengan kategoori kurang sekali dengan persentase 0% dengan
frekuensi 0 siswa.
Dari hasil tersebut
maka dapat di simpulkan bahwa hasil kemampuan passing atas kelas X AK 1 SMK
Negeri 1 Makassar dengan melalui pembelajaran variasi passing berpasangan
mencapai persentase 43,33% (Baik), 10% (Cukup) dan 46,66% (Kurang). Dapat
dilihat dari diagram batang perolehan nilai persentase pada siklus I berikut
ini:
Berdasarkan
diagram batang skor nilai persentase pada siklus 1 menunjukkan bahwa dari 30
sampel penelitian, terdapat (43,33%) dengan frekuensi 13 siswa berkategori
baik, (10%) dengan frekuensi 3 siswa berkategori cukup, dan (46,66%) dengan
frekuensi 14 siswa berkategori kurang.
d.
Refleksi
Berdasarkan hasil observasi dan evaluasi selama pelaksanaan siklus I,
siswa mencapai indikator keberhasilan secara klasikal yang telah dirumuskan
sebelumnya sebagai bentuk refleksi yang menjadi pertimbangan dalam melakukan
revisi tindakan pada siklus kedua yaitu:
1)
Masih ada siswa yang bermain-main dan bercerita dengan temannya pada saat
proses pembelajaran.
2)
Siswa masih kurang serius dan tidak memperhatikan pelasan guru saat proses
pembelajaran berlangsung.
3)
Siswa masih ragu-ragu dalam melakukan gerakan dalam proses pembelajaran
yang mengakibatkan gerakan yang dilakukan kurang maksimal. Oleh karena itu,
diharapkan dapat menjadi bahan perbaikan pada siklus II.
3. Siklus II
Pada siklus II peneliti melaksanakan kegiatan
penelitian tindakan kelas, dengan melakukan persiapan dan langkah-langkah
sebagai berikut:
a. perencanaan
Perencanaan diawali
dengan konsultasi dengan guru olahraga selaku guru pamong. Konsultasi antara
peneliti dengan guru pamong meliputi penentuan waktu tindakan kelas, yang akan
digunakan untuk penelitian, perencanaan tindakan, dan pembuatan RPP (rencana
pelaksanaan pembelajaran). Penentuan waktu tindakan ini kaitannya dengan
pelaksanaan tindakan.Dari hasil konsultasi dengan guru pamong diperoleh
kesepakatan pelaksanaan tindakan siklus I di mulai pada hari jum’at 20 juli
2018 dan kelas digunakan yaitu kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
Langkah selanjutnya
adalah penentuan metode yang akan digunakan pada maetri pembelajaran.
Penelitian melalui materi pembelajaran tentang teknik dasar passing atas permainan bola voli. Setelah itu penyusunan
RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran)yangmemuat perencanaan pembelajaran yanga
akan dilaksanakan. Persiapan yang terakhir adalah mempersiapkan alat-alat yang
akan digunakan dalam pembelajaran. Diantaranya adalah menyiapkan lembar
penilaian, peluit, lapangan bola voli dll.
b.
Pelaksanaan
Siswa dibariskan dengan
formasi tiga saf, guru memimpin berdoa setelah itu dilakukan presensi, kemudian
guru penjelaskan materi pembelajaran passing atas dari cara pelaksanaan sikap
awalan, sikap perkenaan, sikap akhir dalam teknik dasar passing atas permainan
bola voli.
Kegiatan berikutnya
adalah pemberian pemanasan, waktu yang digunakan untuk kegiatan pemasanan 15
menit.Kegiatan pertama, siswa melakukan pergerakan statis dan dinamis, guru
memberi contoh dan membetulkan siswa yang gerakannya kurang benar, menegur
siswa yang kurang serius dalam melakukan pemanasan.
Memasuki kegiatan ini
90 menit. Siswa dibagi menjadi 3 kelompok dimana setiap kelompok terdiri dari
10 orang anak dimana anak dibagi menjadi dua banjar saling berhadapan dengan jarak dua meter melakukan passing atas
tanpa terjatuh.
Kegiatan penutup dialokasikan waktunya 15 menit.
Pada kegiatan penutup siswa dibariskan kembali untuk diadakan kereksi
menyeluruh cara melakukan gerakan teknik dasar passing atas yang benar,
kemudian memberikan kesempatan pada siswa untuk Tanya jawab, dilanjutan
pendinginan, berdoa kemudian siswa dibubarkan.
c. Observasi
Hasil dari pengamatan selama proses pembelajaran
berlangsung dalam mengikuti pembelajaran passing atas siswa antusias, sangat
senang mengikuti kegiatan pembelajaran, meskipun hasil yang dicapai oleh siswa
belum semuanya memuaskan. Pada siklus I dari jumlah 30 siswa kelas X AK 1 SMK
Negeri 1 Makassar, sudah ada 13 siswa yang sudah dapat melakukan passing atas
dengan baik dan benar. Secara umum suasana dalam pembelajaran siswa cukup
aktif, ini terlihat dari antusisme siswa dalam mengikuti pembelajaran mualai dari
pemanasan sampai selesai pembeajaran.
Kegiatan
yang telah dilaksanakan pada siklus II adalah penyajian materi passing atas
dalam permainan bola voli melalui pembelajaran passing berpasangan pada
pembelajaran bola voli sebanyak tiga kali pertemuan dan dipertemuan ke-tiga
pengambilan hasil atau evaluasi tes, yang dinilai dari penilaian proses dan
penilaian produk. Berdasaran hasil
penelitian pada siklus pertama, maka persentase kategori belajar siswa melalui
pembelajaran variasi passing berpasangan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.3
deskripsi hasil kemampuan passing atas melalui passing berpasangan siswa kelas
X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
No
|
Nilai Interval
|
Frekuensi
|
Persentase ( % )
|
Kategori
|
1
|
91 – 100
|
21
|
70 %
|
Sangat Baik
|
2
|
80 – 90
|
9
|
30 %
|
Baik
|
3
|
70 – 79
|
-
|
0 %
|
Cukup
|
4
|
60 – 69
|
-
|
0 %
|
Kurang
|
5
|
< 60
|
-
|
0 %
|
Kurang Sekali
|
Jumlah
|
30
|
100 %
|
(sumber:Analisis data hasil kemampuan
passing atas 2018)
Berdasarkan tabel 4.3
menunjukkan persentase kategori hasil kemampuan passing atas melalui passing
berpasangan, pada siklus II yang berkategori sangat baik dengan persentase 70%
dengan frekuensi 21 siswa, baik dengan persentase 30% dengan frekuensi 9 siswa, berkategori
cukup dengan persentase 0% dengan frekuensi 0 siswa, kategori kurang dengan
persentase 0% dengan frekuensi 0 siswa dengan kategori kurang sekali dengan
persentase 0% dengan frekuensi 0 siswa.
Dari hasil tersebut
maka dapat di simpulkan bahwa hasil kemampuan passing atas kelas X AK 1 SMK
Negeri 1 Makassar dengan melalui pembelajaran passing berpasangan mencapai
persentase 70% (Sangat Baik), dan 30 % (Baik). Dapat dilihat dari diagram
batang perolehan nilai persentase pada siklus I berikut ini:
Berdasarkan
gambar diagram batang nilai persentase pada siklus II menunjukkan bahwa dari 30
sampel penelitian, terdapat (70%) dengan frekuensi 21 berkategori sangat baik,
(30%) dengan frekuensi 9 berkategori
baik.
d.
Refleksi
Berdasarkan refleksi pada siklus II, guru melaksanakan
perbaikan pembelajaran untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang ada
pada siklus I upaya yang dilakukan pada siswa mengalami peningkatan,
berdasarkan hasil pengamatan sebagai berikut:
1)
Dalam proses pembelajaran siswa sudah bersungguh-sungguh dan memperhatikan
penjelasan.
2)
Siswa sudah tidak ragu-ragu lagi dalam melakukan gerakan dalam proses
pembelajaran mengakibatkan gerakan yang sudah dilakukan bisa maksimal.
4. Perbandingan Siklus I dan Siklus II
Untuk lebih mengetahui perbandingan hasil kemampuan passing
atas permainan bola voli melalui pembelajaran variasi passing berpasangan siswa
kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar pada siklus I dan II dapat dilihat pada
tabel dibawah ini:
Tabel 4.4 deskripsi hasil kemampuan passing atas melalui
pembelajaran variasi passing berpasangan siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1
Makassar
Nilai Interval
|
Kategori
|
Siklus I
|
Siklus II
|
||
Frekuensi
|
Persentase ( % )
|
frekuensi
|
Persentase ( % )
|
||
91 – 100
|
Sangat Baik
|
-
|
- %
|
21
|
70%
|
80 – 90
|
Baik
|
13
|
43,33 %
|
9
|
30%
|
70 – 79
|
Cukup
|
3
|
10%
|
-
|
0%
|
60 – 69
|
Kurang
|
14
|
46,66 %
|
-
|
0%
|
< 60
|
Kurang Sekali
|
-
|
0%
|
-
|
0%
|
Jumlah
|
30
|
100 %
|
30
|
100 %
|
|
(sumber:Analisis
data hasil kemampuan passing atas 2018)
Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat perbandingan distribusi frekuensi dan kategori
peningkatan hasil kemampuan passing atas permainan bola voli melalui
pembelajaran variasi passing berpasangan pada siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1
Makassar pada siklus I dan siklus II pada tabel diagram berikut ini:
Gambar 4.3 diagram
batang persentase kemampuan passing atas siklus I dan siklus II siswa kelas X
AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
Berdasarkan diagram
batang persentase hasil kemampuan passing atas permainan bola voli melalui
pembelajaran variasi passing berpasangan pada siklus I dan II siswa kelas X AK
1 SMK Negeri 1 Makassar. Dapat dilihat bahwa dari 30 siswa kelas X AK 1 SMK
Negeri 1 Makassar yang menjadi sampel penelitian ini dapat diuraikan sebagai
berikut:
a.
Persentase
kategori hasil kemampuan passing atas siswa setelah mengaplikasikan melalui
pembelajaran variasi passing berpasangan untuk kategori baik sebesar 43,33 %,
cukup sebesar 10 %, kurang sebesar 46,66 % pada siklus I.
b.
Persentase
kategori hasil kemampuan passing atas siswa setelah mengaplikasikan melalui
pembelajaran passing berpasangan untuk kategori kurang sebesar 46,66 % siklus
I, kemudian menurun menjadi 0 % pada siklus II.
Hal tersebut
menunjukkan bahwa jumlah siswa yang berada dalam kategori sangat baik mengalami
peningkatan yakni 70 %, kategori baik 30 %, dan pada saat siklus I proses
pembelajaran terjadi 3 kali pertemuan proses dan pelaksanaan dengan materi yang
diberikan, dan pada siklus II mengalami peningkatan keseluruhan penilaian
pengkategorian baik penilaian proses dan penilaian produk dengan pelaksanaan
proses penilaian yang hampir sama dengan siklus I tetapi pada siklus II ada
penambahan pemberian pembelajaran melalui passing berpasangan di tempat tanpa
rotasi agar siswa lebih aktif dalam melakukan passing atas sehingga lebih
sering berulang-ulang dalam pelaksanaan, baik dalam sikap perkenaan antara bola
dengan tangan sehinga lebih meningkatkan penilaian proses dan penilaian produk
siswa lebih meningkat dari hasil sebelumnya karena siang lebih banyak bergerak
atau melakukan passing secara terus menerus tanpa ada rotasi atau menunggu giliran.
Penelitian ini menunjukkan peningkatan hasil pengkategorian secara klasikal
pada siklus II sebanyak 100 % dan
mencapai kriteria keberhasilan secara individual dengan nilai peserta didik
berada pada kategori sangat baik.
Dengan demikian dapat
disimpulkan bahwa penelitian tindakan kelas mengenai peningkatan kemampuan
passing atas dalam pembelajaran permainan bola voli pendidikan jasmani dan
olahraga melalui pembelajaran variasi passing berpasangan siswa kelas X AK 1
SMK Negeri 1 Makassar, ketuntasan keseluruhan siswa 100 % pada siklus II,
sehingga tidak perlu lagi dilanjutkan di siklus berikutnya.
C.
Pembahasan
Berdasarkan refleksi dari analisis data yang
terkumpul maka hasil penelitian tindakan kelas menunjukkan bahwa pada akhir
siklus ada peningkatan mutu pembelajaran kemampuan passing atas permainan bola
voli. Hal tersebut dapat dilihat pada data hasil pengamatan, penilaian passing
atas siswa dan dalam pembelajaran passing atas dalam permainan bola voli
berikut ini:
Penelitian tindakan kelas meliputi II siklus yang
terdiri dari siklus I dan siklus II.Setiap siklus terdiri dari beberapa tahap,
yaitu tahap perencanaan, observasi, dan refleksi.Pada tahap-tahap yang
dilakukan merupakan perbaikan pada siklus sebelumnya. Hasil yang diperoleh pada
penelitian ini terdiri dari data tes yang berupa tingkat kemampuan gerak siswa
yang di peroleh melalui pembelajaran pendidikan jasmani kesehatan dengan materi
passing atas dalam permainan bola voli melalui pembelajaran menggunakan variasi
passing berpasangan siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar. Hasil dari kedua
siklus tersebut digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan passing atas
siswa melalui pembelajaran variasi passing berpasangan pada pembelajaran
pendidikan jasmani kesehatan khususnya passing atas bola voli untuk siswa kelas
X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar.
Observasi yag diperoleh sebelumnya dan setelah
dilakukan tindakan menunjukkan adanya peningkatan kekampuan passing siswa yang
ditunjukkan dengan hasil kemampuan gerak siswa. Sebelum diterapkan pembelajaran
menggunakan variasi passing berpsangan diperoleh hasil tes siklus I diperoleh sebanyak 13 siswa (43,33%) kategori
Baik, 3 siswa (10%) kategori cukup, 14 siswa (46,66%) kategori kurang. Kemudian
pada hasil tes siklus II menunjukkan 21 siswa (70%) kategori sangat baik dan 9
siswa (30%) kategori baik.
Berdasarkan penelitian di atas menunjukkan bahwa
dengan pembelajaran yang sesuai dengan kemampuan dan tingkat kesulitan teknik
dasar yang diajarkan akan mampu memberikan perubahan yang signifikan pada
peningkatan kemampuan gerak siswa, pembelajaran di kemas dengan sedemikian rupa
yang mampu memberikan kesempatan bagi siswa mengenai dirinya seberapa jauh
penguasaan teknik dasarnya dan memberikan kesempatan siswa untuk memperbaiki
ini akan memberikan peluang siswa untuk lebih memiliki teknik dasar yang baik.
Menurut carl Bucher dan Wijatmito (2007) permainan bola voli merupakan
permainan yang telah lama dikenal oleh anak-anak dan orang tua, laki-laki
maupun perempuan, mampu mengerakkan untuk berlatih, bergembira dan rileksasi.
Secara ksusus kemampuan passing atas boal voli harus dikuasai dengan baik
dengan kriteria hasil passing yang baik agar mudah diterima oleh spike (smash).
Untuk meningkatkan kemampuan secara khusus pemberian pembelajaran menggunakan
variasi passing berpasangan dalam materi passing atas permainan bola voli akan
memberikan kesempatan siswa untuk mampu bermain dengan tahap-tahap tingkat
kemampuan yang dimiliki dan didukung dengan faktor kebersamaan sesame team.
Karakteristik permainan bola voli adalah permainan yang mengutamakan kerjasama
agar mudah dalam mencetak poin.Permainan bola voli diawali dengan service, passing dan diakhiri dengan smash dan blocking.Meneurut Nuril Ahmadi
(2007:36), Passing merupakan usaha atau upaya seseorang pemain bola voli
dengan cara menggunakan suatu teknik tertentu yang tujuannya adalah untuk
mengoperkan bola yang dimainkannya itu kepada teman seregunya untuk dimainkan
di lapangan sendiri. Dengan memiliki kemampuan teknik dasar passing atas yang
akan memudahkan siswwa untuk menghidupkan permainan.
Pada siklus I tindakan dalam proses pembelajaran
passing atas melalui pembelajaran variasi passing atas berpasangan pada siswa
kelas X AK 1 SMK Negri 1Makassar, Kecamatan Bongaya, Provinsi Sulawesi Selatan
tahun pelajaran 2018/2019 sudah tepat. Pada siklus pertama peneliti menggunkan
pembelajaran melalui variasi passing berpasangan secara bergantian (rotasi)
dalam prooses pembelajaran siswa antusias dalam pembelajaran akan tetapi siswa
kurang dalam pelaksanaan karena adanya rotasi atau giliran dalam melakukan
passing atas sehingga siswa kurang dalam sikap perkenaan yang benar. Namum ada
beberapa siswa yang kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran, sehingga hasil
penilaian passing atas melalui varaisi passing berpasangan siswa kelas X AK 1
masih ada dalam kategori kurang dengan frekuansi 14 siswa. Sesuai dengan
pendapat yang dikemukan oleh Amung Ma’mun dan Yudha (2000:70) mengatakan
“pencapaian suatu kemampuan dipengaruhi oleh banyaknya faktor”. Faktor tersebut
dibedakan menjadi tiga hal yaitu (1)
faktor proses belajar mengajar, (2) faktor pribadi, dan (3) faktor
situasional (lingkungan). Senada dengan pendapat tersebut menunjukkan bahwa
kegiatan belajar mengajar harus diciptakan suasana yang baik agar guru dapat
menyampaikan materi dengan mudah diterima oleh siswa.Selain agar mudah diterima
oleh siswa guru harus mampu memberikan penyampaian materi dengan tahapan yang
mudah disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa.Hal ini dikarenakan
setiap siswa memiliki karakter yang dan tingkat kemampuan dan keterampilan yang
berbeda-beda sehingga harus mampu memberikan pembelajaran yang sesuai dengan
kemampuan secara klasikal siswa.
Pada siklus II tindakan dalam proses pembelajaran
passing atas permainan bla voli melalui pembelajaran variasi passing
berpasangan pada siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar, Kecamatan Bongaya,
Provinsi Sulawesi Selatan Tahun pelajaran 2018/2019 sudah lebih baik lagi dan
cukup memuaskan. Tindakan yang diberikan pada siklus II dengan menambah passing
berpasangan tanpa rotasi. Tujuan pembelajaran tersebut adalah untuk lebih
efektif dan atusias siswa karena lebih banyak bergerak dan lebih sering
melakukan passing secara berulang-ulang karena tidak ada siswa yang menunggu
giliran atau rotasi dalam melakukan passing atas secara berpasangan, dan
penguasaan teknik passing mulai dari sikap permulaan, sikap perkenaan, sikap
akhir siswa kelas X AK 1 sudah semakin baik, hal ini dibuktikan dengan pada
penilaian rata-rata 95.
Berdasarkan dari dua penjelasan kegiatan
tiap siklus, yaitu siklus I dan II, menunjukkan bahwa hasil observasi dalam
pembelajaran passing atas permainan bola voli melalui pembelajaran variasi
passing berpasangan, selalu ada peningkatan yang baik, serta pemberian motivasi
dari guru dalam proses pembelajaran membuat siswa menjadi termotivasi untuk
dapat meningkatkan penguasaan teknik dasar passing. Berdasarkan hasil tersebut
maka peneliti dan kolaborator sepakat bahwa proses pembelajaran passing atas
permainan bola voli melalui pembelajaran variasi passing atas berpasangan dapat
menjadi salah satu pembelajaran untuk meningkatkan hasil kemampuan passing
untuk kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar, Kecamatan Bongaya, Provinsi Sulawesi Selatan.
Tahun pelajaran 2018/2019.
BAB
V
KESIMPULAN
DAN SARAN
A.
Kesimpulan
Berdasarkan
penelitian terhadap hasil kemampuan passing atas permainan bola voli melalui
pembelajaran menggunakan variasi passing berpasangan dapat meningkatkan
kemampuan passing siswa kelas X AK 1 SMK Negeri 1 Makassar. Hasil penelitian
pada siklus I adalah 13 siswa (43,33%)
baik, 21 siswa (10%) cukup, 14 siswa (46,66%) kurang. Sedangkan siklus II
adalah 21 siswa (70%) sangat baik, 9 siswa (30%) baik.
Maka
adapun kesimpulan peningkatan keampuan passing atas permainan bola voli melalui
pembelajaran menggunakan variasi passing berpasangan siswa kelas X AK 1 SMK
Negeri 1 Makassar pada setiap siklus.
B.
Saran
Berdasarkan
hasil penelitian yang dilaksanakan, maka dapat disarankan beberapa hal, di
antaranya:
1. Bagi
siswa
Siswa
harus mampu memperbaiki dan meningkatkan kemampuan passing atas agar mampu
bermain dengan baik
2. Bagi
guru pendidikan jasmani
Sebaiknya
dalam proses pembelajaran menerapkan variasi passing berpasangan permainan bola
voli.
Penerapan
variasi passing berpasangan agar tidak membuat peserta didik cepat bosan dan
jenuh sehingga penyerapan materi terhadap teknik yang diberikan akan lebih
baik.
3. Bagi
peneliti
Pada peneliti lainnya diharapkan
menjadikan pembelajaran melalui variasi passing berpasangan sebagai salah satu
alternative dalam pembelajaran untuk meningkatkan kemampuan passing bermain
bola voli.
DAFTAR PUSTAKA
Anthony, D.
2001. Belajar Bermain Bola Voli.
Bandung: Pionis Jaya
Ahmadi, Nuril.
2007. Pendidikan Jasmani Olahraga dan
Kesehatan. Jakarta: Kementrian Pendidikan Kebudayaan
Arikunto,
Suharsimi. 2009. Penelitian Tindakan
Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Hamalik, Oemar.
2001. Proses Belajar Mengajar.
Jakarta: Bumi Aksara
Muhajir. 2004. Pendidikan Jasmani Teori dan Praktek untuk
SMA kelas X. Jakarta: Erlangga
Nakhrawi, N.
dkk.2015. Permainan Bola Voli.
Makassar: Universitas Negeri Makassar
Kunandar.2008. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas
Sebagai pengembangan Profesi Guru. Jakarta: Bumi Aksara.
Winarno.2013. Metodologi Penelitian dalam Pendidikan
Jasmani. Malang: Universitas Negeri Malang (UM PRESS)
Kardiyanto
dkk, 2013.Teknik Dasar Bermain Bola Voli.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya
Yoshi,
Y. 2013.Meningkatkan keterampilan dan
kemampuan passing atas dalam permainan bola voli melalui variasi latihan ring
terget bagi siswa kelas x Sma Negeri 1 Batang Merangi Kerici.Batang :
Universitas Jambi
Wijatmiko,
2011.Upaya Meningkatkan Pembelajaran
Passing Bola Voli Melalui Pendekatan Latihan Passing Atas Pada siswa kelas x
Sma kebokura sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun Ajaran 2011/2012.Yogyakarta :
Universitas Negeri Yogyakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar